Feeds:
Tulisan
Komentar

Judul Buku : YANG BERLAWAN, Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI

Penulis : Imam Soedjono
Penerbit : RESIST BOOK
Cetakan : Pertama, Januari 2006
Tebal : 441 halaman
Peresensi : Gede Sandra*
Lanjut Baca »

Imagine – John Lennon

Imagine-John Lennon

Bengawan Solo

Bengawa

Imagine there’s no heaven
It’s easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today…

Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one

Nasionalisasi Aset Indonesia

(Dimuat di Metro Bali, 25 November 2008)

Saat ini Indonesia sedang harap-harap cemas menanti terjualnya mayoritas saham industri batubara terbesar di tanah air (BUMI Resources Tbk) kepada pihak asing (Northstar Pasific). Proses due diligence penjualan 35 persen saham (setara 6,791 miliar lembar saham) kepada Northstar Pasific ini sendiri direncanakan berakhir 28 November 2008. Tidak sampai seminggu lagi.

Jika kemudian Northstar Pasific menganggap telah terjadi price disprecancy (ketidaksesuaian harga), akibat semakin anjloknya nilai saham BUMI, maka transaksi pelegoan tersebut akan batal. Kita berdoa saja transaksi benar-benar batal hingga akhirnya mau tidak mau Negara yang akan membelinya.

Ini soal Kedaulatan Energi Nasional

Saat Negara -melalui BUMN-BUMN tambangnya (semisal: PT. ANTAM dan PT. Bukit Asam)- yang mengambil alih saham BUMI, maka bersamaan dengan itu juga PR Negara untuk dapat memenuhi kebutuhan pasokan energi nasional dapat selesai sebagian besarnya. Dengan memiliki mayoritas saham (35%), Negara lah yang akan menentukan akan dilarikan ke mana sumber daya alam (SDA) batubara nasional- diekspor atau dipasok ke industri energi domestik. Jika terwujud, kelak kedaulatan energi bukanlah lagi sebatas retorika atau mimpi-mimpi para elit dan birokrat nasional, tetapi akan sudah mensunyata.

Sangat berbeda bila bukanlah Negara yang mengambil alih BUMI, melainkan pihak asing. Dapat dipastikan jalan menuju kedaulatan energi akan bertambah panjang dan rumit. Hal ini telah terbukti pada banyak sekali kasus industri ekstraktif di tanah air yang mayoritas sahamnya dikuasai asing. Negara hanya merasakan royalty dan pajak, SDA semuanya lari ke luar negeri tanpa tersisa sedikitpun untuk dinikmati faedahnya oleh rakyat.

Masa kita lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama, yang itu-itu juga: menjual kepenguasaan SDA nasional pada asing. Bagi saya sudah jelas. Ini bukanlah soal apakah Bakrie Group selamat atau tidak, ini adalah soal kedaulatan energi nasional. Masa kita rela membiarkan PLN bertambah ‘memble’ akibat kekurangan pasokan SDA batubara milik bangsanya sendiri?

Para Penolak Nasionalisasi

Selain dari pihak Kementerian Keuangan-nya Sri Mulyani (yang merupakan jaringan pemuja aliran Neoliberalisme/Washington Concensus), penolakan untuk membeli saham BUMI oleh Negara juga datang dari kalangan LSM seperti Indonesian Corruption Watch, Wahid Institute, INFID, dan OPSI (KOMPAS Senin, 17 November 2008). Secara prinsip landasan penolakan kedua pihak ini berbeda. Jika Sri Mulyani menolak dengan alasan bahwa memang sudah selayaknya BUMI dilelang kepada asing karena sudah tidak sehat (sesuai watak neoliberal beliau), kalangan akivis lebih menolak dengan alasan bahwa proses pembelian saham BUMI oleh Negara sangat rawan korupsi (karena ternyata Menneg BUMN Sofyan Djalil memiliki sebagian saham di BUMI) dan berpotensi membebani APBN (karena kewajiban menutup utang BNBR sebesar Rp 15 trilyun).

Posisi Sri Mulyani sudah tak perlu diperdebatkan, karena memang sudah menjadi keyakinan (membabi-buta) beliau untuk meliberalkan segala sesuatu. Yang harus lebih kita kritisi lagi adalah alasan dari kalangan LSM: soal korupsi dan pembebanan APBN. Menurut saya, jika toh memang terbukti terjadi korupsi kelak, tinggal tangkap saja si koruptor- tetap jangan lupa kemudian menyita asetnya. Yang paling riil memang adalah pembebanan APBN. Namun, haruslah diketahui bahwa proses nasionalisasi (proses pembelian 35% saham dapat dikategorikan sebagai nasionalisasi) akan selalu membebani anggaran Negara -apakah itu saat pembelian sahamnya atau juga saat mengambil alih utang perusahaan yang dinasionalisasi tersebut. Sekarang tinggal kita nilai saja secara lebih jujur, manakah yang lebih menguntungkan bagi Negara: membiarkan sama sekali mayoritas SDA batubara nasional jatuh ke tangan asing; atau menguasai mayoritas SDA batubara nasional dengan resiko APBN terbebani utang tambahan Rp 15 trilyun. Yang mana yang lebih menguntungkan untuk masa depan bangsa? Bagi saya, toh kapan saja kelak, tergantung pemegang policy, utang luar negeri dapat kita putihkan atau moratoriumkan.

Apapun alasan kedua kubu di atas, secara prinsip nyawa dari penolakan pembelian saham BUMI tetap sama: merelakan mayoritas kepenguasaan SDA ke tangan asing. Karenanya saya menolak tegas landasan kedua kubu tersebut, mereka sama-sama dapat dikategorikan sebagai para penolak nasionalisasi.

Seharusnya sudah jelas: saat banyak aset nasional yang dimiliki pihak swasta berjatuhan nilai jualnya (akibat Krisis Global 2008-2009), maka di saat itulah Negara harus segera bergerak cepat melakukan nasionalisasi. Hanya dengan demikian Indonesia dapat ambil keuntungan atas krisis saat ini.

(Dimuat di BisnisBali, 21 April 2007)

“Moffet boleh punya uang tapi kami yang punya gunung” Itulah ucapan salah seorang delegasi Tongoi Papua yang bernama Kilas Natkime, seperti dilansir Antara (20/04/2007), untuk menunjukkan martabat bangsanya sebagai pemilik sah gunung tembaga Papua di hadapan pemilik saham terbesar Freeport-McMoran, James Moffett. Lanjut Baca »

(Dimuat di BisnisBali 2 Mei 2007)

Apa kira-kira kaitan Hari Buruh (May Day) 1 Mei dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei di Indonesia? Mungkin orang awam akan berkata tidak ada kaitannya.Begitu pula mungkin jawaban mereka yang paham sejarah kedua hari besar itu, dua hari yang sangat layak dijadikan hari libur nasional.
Lanjut Baca »

Busway dan Jalan Keluarnya

(dimuat di Suara Pembaruan 27 November 2007)

Beberapa minggu terakhir ini DKI Jakarta terjebak dalam fenomena sosial kemacetan lalu lintas. Ini terutama ditambah dengan siklus musim hujan yang sedang gencar-gencarnya. Akibatnya, beberapa jalur utama di Ibukota macet total, tidak peduli pagi, siang ataupun malam. Lanjut Baca »

Membangun Poros Harapan

(Dimuat di Media Indonesia 26 September 2006)

“Jutaan dolar dialokasikan untuk militer setiap tahunnya, pada saat yang sama sekitar 11 juta anak-anak meninggal dalam usaha pencegahan dan perawatan atas sakit mereka. Jutaan dolar yang lainnya dihabiskan untuk produksi iklan komersial pada saat yang sama pula sekitar 860 juta umat manusia di seluruh dunia menderita buta huruf.”

Pidato yang diberikan Carlos Lage, Wakil Presiden Dewan Negara Kuba, di Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (GNB) Havana 2006
Lanjut Baca »

(Dimuat di Bali Post, 21 April 2008)

Rasa-rasanya tidak perlu diulas lagi tentang seberapa parah krisis ekonomi terjadi di Indonesia . Kasus berulangnya pembunuhan balita oleh ibu kandungnya –kali ini terjadi di Pekalongan- akibat kemiskinan (Kompas, 27/03/08), ataupun kasus sekeluarga mati kelaparan di Makassar juga akibat kemiskinan (Tribun Timur, 02/03/2008 ), seharusnya telah cukup untuk membuka mata seluruh politisi dan ekonom nasional akan situasi ekonomi riil yang terjadi di negara kita.

Benar kiranya komentar salah seorang aktivis kolega saya belum lama ini, “Selisih angka kemiskinan ataupun kebangkrutan ekonomi tak usah terus diperdebatkan. Sekarang riil saja: harga naik di mana-mana dan lapangan kerja langka. Bagaimana mengatasi kedua problem pokok rakyat itu?”
Lanjut Baca »

Menyihir Indonesia

Pada Jumat malam (24/10/2008) Chris John berhasil mendirikan kedaulatan nasional lewat cabang olahraga tinju. Petinju muda ini memenangkan pertarungan 12 ronde mempertahankan gelar juara WBA-nya melawan petinju Jepang, Horoyuki Enoki di Korakuen Hall, Tokyo, Jepang. Terima kasih Chris John. Setidaknya ada juga berita membanggakan tentang nation kita. Siapa yang tidak bangga melihat panji Merah Putih berkibar di negeri orang? Sudah cukup lama kiranya Sang Saka Merah Putih berkibar lesu di negerinya sendiri.

Sudah lelah rasanya mata, melihat setiap hari berbagai ekses buruk krisis (bahkan dapat dibilang tragis) di media massa. Mau tidak mau, dapat dipastikan, semua pemandangan buruk tersebut mempengaruhi kestabilan kerja otak manusia Indonesia. Mulai dari maraknya kasus bunuh diri anak kecil akibat depresi, kebejatan moral remaja dan orang dewasa yang semakin menjadi-jadi, gejala fasisme yang meningkat di kalangan aparat, sampai membengkaknya penderita kelainan jiwa di usia produktif, dsb; semuanya menjadi perayaan yang kurang elok bagi Bangsa Indonesia dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional-nya. Tragis.
Lanjut Baca »

Mimpi Kemanusiaan

Kata-kata mutiara dari Anggun C. Sasmi, yang diungkapkannya saat menerima penghargaan di pagelaran Anugerah Musik Indonesia beberapa hari lalu, di akhir tahun 2006, yang kira-kira bunyinya adalah :“Hidup tanpa mimpi akan menjadi sangat hambar. Namun mimpipun harus diwujudkan..” adalah sangat tepat untuk dijadikan motto bagi sebagian besar manusia Indonesia saat ini untuk menyambut tahun yang baru, tahun 2007. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »